“Percobaan di Arcamanik berhasil dengan sangat baik, maka kita akan replikasi di beberapa tempat lain,” katanya.
Selain itu, Pemkot Bandung akan mendorong pembangunan kompos pit di tingkat RW. Fasilitas tersebut dirancang sebagai tempat pengolahan sampah organik berukuran sekitar 1 x 1 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter.
Setiap RW direncanakan memiliki tiga kompos pit. Dengan jumlah RW di Kota Bandung yang mencapai sekitar 1.600, fasilitas tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 4.800 titik.
Kompos pit nantinya akan menampung sampah organik yang telah dipilah dari sumbernya. Dengan demikian, sampah organik tidak perlu seluruhnya diangkut menuju TPA.
“Tujuannya ke sana. Insyaallah target kita bisa mengurangi sampai 20 persen sampah organik yang dibawa ke TPA,” tutur Farhan.
Farhan menjelaskan, dari total timbulan sampah Kota Bandung sekitar 1.600 ton per hari, sebagian di antaranya merupakan sampah organik.
Pemkot Bandung menargetkan sekitar 120 hingga 150 ton sampah organik per hari dapat diselesaikan di tingkat RW.
Sementara sampah yang tersisa akan mendapatkan penanganan lebih lanjut sehingga beban pengangkutan menuju TPA dapat ditekan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkot Bandung untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus membangun kesadaran bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. (Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan