Perubahan paradigma tersebut juga membuat pelayanan kesehatan tidak hanya berpusat di gedung puskesmas, tetapi semakin didekatkan dengan masyarakat melalui berbagai komunitas, seperti sekolah, tempat kerja, tempat usaha, serta lingkungan masyarakat.

Upaya mendekatkan layanan juga dilakukan melalui puskesmas keliling dan posyandu. Menurut dr. Ira, puskesmas keliling menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang mengalami kendala untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena persoalan waktu maupun akses dan transportasi.

“Kalau masyarakat tidak bisa datang ke puskesmas karena masalah waktu atau lokasi, kita yang datang melalui mekanisme puskesmas keliling,” ujarnya.

Posyandu juga mengalami perubahan paradigma. Jika sebelumnya lebih dikenal dengan pelayanan ibu dan anak, kini posyandu menggunakan pendekatan siklus hidup sehingga dapat diakses oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak, dewasa hingga lansia. Layanan yang diberikan antara lain skrining kesehatan dan imunisasi sebagai bagian dari penguatan upaya promotif dan preventif.

Selain kesehatan fisik, perhatian terhadap kesehatan mental juga menjadi bagian dari pengembangan layanan kesehatan di Kota Bandung.

Saat ini, layanan psikolog klinis telah tersedia di 12 UPTD Puskesmas di Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung juga meluncurkan layanan konseling psikologis Bandung Utama Bagja Sararea (Bangbara) pada 25 Juni 2026 untuk mempermudah masyarakat mendapatkan pendampingan kesehatan mental secara profesional.

Menurut Ira, hadirnya layanan kesehatan mental menjadi bagian dari upaya memperluas akses pelayanan kesehatan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan perhatian ketika mengalami gangguan kesehatan fisik, tetapi juga memiliki akses terhadap pendampingan kesehatan mental.

Dalam upaya memberikan akses layanan yang lebih sesuai dengan karakter masyarakat perkotaan, dr. Ira menyampaikan bahwa Kota Bandung juga menghadirkan layanan puskesmas 24 jam. Saat ini terdapat dua puskesmas yang telah membuka layanan tersebut, yakni Puskesmas Ibrahim Aji dan Puskesmas Garuda.

Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu pada jam kerja, layanan rawat jalan dapat diakses hingga malam hari. Sementara untuk kondisi kegawatdaruratan tertentu yang masih dapat ditangani di tingkat pelayanan kesehatan pertama, layanan tersedia selama 24 jam sesuai kapasitas fasilitas kesehatan.

Selain itu, upaya promotif dan preventif terus diperkuat dengan mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan dan deteksi dini. Salah satunya melalui skrining kesehatan berdasarkan usia dan faktor risiko, sehingga potensi masalah kesehatan dapat diketahui lebih awal.

“Paradigmanya harus berubah. Puskesmas itu benar-benar dekat dengan masyarakat, tidak hanya pada saat sakit, tetapi pada saat sehat pun untuk mengecek atau melihat kondisi kesehatan,” pungkas Ira.(Fi)