Hadir dalam acara tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Ia menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas, tetapi memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, berkarya, berprestasi, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Hasto menyampaikan, pembangunan manusia tidak cukup hanya dilakukan dengan membangun sekolah, fasilitas, maupun menyediakan berbagai program. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat juga harus membangun lingkungan yang tidak meninggalkan siapa pun.

Anak-anak penyandang disabilitas, menurut Hasto, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Mereka juga memiliki hak untuk bermain, berkesenian, berolahraga, bekerja, berkarya, dan menunjukkan prestasi.

“Karena itu, tugas kita bukan melihat keterbatasannya. Tugas kita adalah memastikan bahwa lingkungan di sekitarnya tidak menjadi keterbatasan tambahan,” katanya.

Semangat inklusi, lanjutnya, juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya, sekaligus kota yang kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan ruang publik, memiliki tanggung jawab untuk memastikan ruang-ruang tersebut dapat dinikmati seluruh warga.

“Apalagi kawasan Malioboro yang juga meruapakan kawasan budaya, ruang pendidikan, fasilitas pelayanan publik, tempat wisata, hingga ruang sosial, harus terus diarahkan agar semakin ramah, aman, nyaman, dan mudah diakses oleh semua warga, termasuk penyandang disabilitas,” bebermya.

Kepada anak-anak penyandang disabilitas, Hasto berpesan agar tidak pernah merasa rendah diri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain.

Ia pun mendorong anak-anak untuk terus belajar, berkarya, berani tampil, dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Masa depan, menurut Hasto, bukan hanya milik mereka yang memiliki kondisi sempurna, tetapi milik siapa saja yang mau belajar, berusaha, dan terus berkarya.

Hasto berharap kegiatan “Suara Inklusi untuk Semua 2026” tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Semangat inklusi harus terus terdengar di sekolah, keluarga, tempat kerja, ruang publik, hingga dalam setiap kebijakan pembangunan.(Ms)