“Alhamdulillah progres pendataan sektor ekonomi di Jawa Tengah sangat baik. Sudah mencapai 81 persen dari total target. Ini bukan capaian yang mudah, karena jumlah pelaku usaha di Jawa Tengah mencapai lebih dari 4,5 juta,” kata Sonny.
Meskipun capaian pendataan secara umum terhitung tinggi, Sonny mengungkapkan pendataan terhadap kelompok usaha besar baru mencapai sekitar 40 persen.
“Target kami seluruh usaha besar bisa terdata 100 persen, karena data tersebut akan menentukan potret ekonomi Indonesia secara lengkap,” ujarnya.
Menurut Sonny, tantangan terbesar bukan berasal dari masyarakat maupun pelaku usaha kecil, melainkan proses pendataan perusahaan besar yang membutuhkan koordinasi internal lintas divisi hingga kantor pusat.
“Untuk perusahaan besar, data yang diminta mencakup keuangan, ketenagakerjaan, hingga penjualan, sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Banyak juga yang harus berkoordinasi dengan kantor pusat,” ungkapnya.
Selain itu, penghuni apartemen juga menjadi tantangan tersendiri, karena sulit ditemui akibat aktivitas yang padat.
Untuk mengejar target, BPS menerjunkan tidak hanya petugas lapangan, tetapi juga aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat senior BPS secara langsung, untuk melakukan pendataan terhadap perusahaan-perusahaan besar.
Sonny kembali menegaskan, Sensus Ekonomi tidak berkaitan dengan perpajakan. Seluruh data responden dijamin kerahasiaannya sesuai ketentuan perundang-undangan.
Hasil Sensus Ekonomi 2026 nantinya akan menjadi basis penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi nasional maupun daerah. Data tersebut akan memotret jumlah dan sebaran pelaku usaha, skala usaha, sektor formal maupun informal, hingga karakteristik kegiatan ekonomi, yang menjadi dasar perencanaan pembangunan di masa mendatang.(Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan