Kelompok kedua menjadi pakan bagi budidaya maggot.
Sedangkan sisa organik yang tidak dapat dimanfaatkan sebagai pakan diolah menggunakan drum komposter menjadi pupuk kompos.
“Dengan sistem ini seluruh sampah organik dapat dimanfaatkan. Tidak ada yang terbuang sia-sia,” ujarnya.
Herlan mengungkapkan, berdasarkan hasil rekapitulasi lapangan, produksi sampah organik di Kelurahan Pasirlayung saat ini mencapai sekitar 560 kilogram per hari atau sekitar 12 ton setiap bulan.
Sementara untuk kawasan RW 02 dan RW 03, volume sampah yang saat ini mampu diolah di lokasi rumah maggot berkisar 50 hingga 75 kilogram per hari.
Menurutnya kapasitas tersebut masih akan terus ditingkatkan.
“Target ke depan sesuai rencana Pak Linus, kapasitas pengolahan akan ditingkatkan menjadi sekitar 300 kilogram per hari sehingga lebih banyak sampah warga yang dapat ditangani langsung di wilayah,” jelas Herlan.
Untuk mencapai target tersebut diperlukan kolaborasi seluruh unsur masyarakat.
Mulai dari warga, RT, RW, Karang Taruna, Kelurahan, petugas Gaslah hingga kalangan akademisi.
“Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, masyarakat dan perguruan tinggi harus bersama-sama membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” katanya.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian di Kelurahan Pasirlayung adalah desain kandang ayam yang terintegrasi dengan budidaya maggot.
Konsep tersebut dirancang sehingga limbah dari peternakan ayam tidak lagi menjadi sumber pencemaran.
Kotoran ayam langsung dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, sementara sampah organik dari warga menjadi sumber pakan.
Dengan demikian seluruh siklus pengolahan berjalan secara tertutup tanpa menghasilkan limbah yang mengganggu lingkungan.
“Inovasinya adalah seluruh unsur saling terhubung. Kotoran ayam tidak menjadi masalah karena dimanfaatkan oleh maggot. Sampah organik warga juga langsung habis terolah. Sistem ini sangat cocok diterapkan di kawasan permukiman karena tidak menimbulkan bau,” jelas Herlan.
Saat ini kapasitas pengolahan di lokasi tersebut masih berkisar 50–75 kilogram sampah organik per hari.
Namun seluruh sampah yang masuk dipastikan habis terolah melalui tiga jalur pemanfaatan, yakni menjadi pakan ayam, pakan maggot, dan kompos.
“Semua habis. Tidak ada sisa sampah organik yang harus dibuang lagi,” tututnya.
Nani berharap keberhasilan Kelurahan Pasirlayung dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kota Bandung dalam membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya.
Ia mengajak seluruh warga menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, mari bersama-sama mengelola sampah dengan baik. Sampah berasal dari kita, maka kita pula yang harus bertanggung jawab mengelolanya. Jika seluruh masyarakat bergerak bersama, persoalan sampah di Kota Bandung dapat kita selesaikan mulai dari lingkungan masing-masing,” pungkasnya.(Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan