“Fokus PMII ke depan ada tiga. Pertama, mendorong kader untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Kedua, mengawal isu-isu kebijakan strategis. Ketiga, mendorong kader PMII menjadi pelaku di berbagai sektor, baik sebagai pelaku UMKM maupun sebagai pemangku kebijakan,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Pertahanan RI, Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso, menyoroti posisi energi dalam lanskap global sekaligus kaitannya dengan ketahanan nasional.
“Energi saat ini bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi telah menjadi instrumen kekuatan geopolitik modern. Penguasaan dan kontrol terhadap energi sangat menentukan posisi tawar serta kekuatan suatu negara dalam percaturan global,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya percepatan transisi energi sebagai strategi nasional.
“Karena itu, transisi menuju energi terbarukan menjadi keniscayaan dalam dinamika global. Pergeseran dari energi fosil ke energi terbarukan merupakan strategi utama untuk menjaga kemandirian dan stabilitas nasional,” pungkasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa energi memiliki peran vital dalam sistem pertahanan negara.
“Lebih jauh, energi juga memiliki peran krusial dalam sistem pertahanan negara, terutama dalam mendukung kesiapan operasional, mobilitas, serta keberlanjutan logistik pertahanan,” tambahnya.
Dari perspektif lingkungan, Ketua Umum IRDI, Laksamana Madya TNI (Purn) Dr. Desi Albert Mamahit, menekankan pentingnya kesadaran ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab moral.
“Ekojihad adalah semangat yang harus dimiliki oleh kita sebagai bangsa Indonesia. Eko di sini berkaitan dengan ekologi, yaitu lingkungan hidup kita. Karena itu, semangat jihad dalam menjaga lingkungan harus benar-benar tertanam dalam benak dan pikiran kita,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Ini adalah panggilan suci bagi kita semua untuk menjaga dunia ini dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Diskusi ini menunjukkan bahwa isu energi, lingkungan, dan peran generasi muda tidak dapat dipisahkan dalam membangun masa depan Indonesia. Di tengah tantangan global yang kian kompleks, penguatan kapasitas kader dan kesadaran kolektif menjadi kunci agar Indonesia mampu beradaptasi sekaligus berkontribusi dalam agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat global. (Dnl)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan