Hasil bedah ide mengubah rancangan awalnya. Sebelum dipetakan, program ini semula hanya melibatkan guru dan siswa. Setelah dibedah, Rezki berencana menggandeng Dinas Pendidikan, yang memiliki kewenangan mengubah kurikulum mata pelajaran. Untuk memvalidasi isi pelajaran mitigasi bencana, ia juga akan menggandeng Badan Taman Nasional, badan penanggulangan bencana, dan BMKG.
“Saya membantu siswa SD sampai SMA di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, memenuhi kebutuhan edukasi mitigasi bencana kemaritiman lewat intervensi kelas mata pelajaran muatan lokal melalui kurikulum dinas pendidikan. Sehingga tercipta buku kurikulum mitigasi bencana dan peta bencana yang terintegrasi, dan pada akhirnya siswa memiliki pemahaman mitigasi bencana dan penanggulangan bencana,” ujar Rezki.
Pemaparan yang lebih lengkap dijadwalkan pada 29 Oktober 2026 dalam kegiatan Pitching Indonesia Youth Summit. Di kegiatan ini, peserta memaparkan rencana programnya dan ditanggapi oleh tiga penanggap.
Penanggap pertama berasal dari unsur Kemenpora, yang menanggapi kesesuaian gagasan dengan kebijakan dan program kepemudaan. Penanggap kedua dari unsur Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) atau pemerintah daerah, yang menyoroti relevansi program dengan kebutuhan daerah serta peluang dukungannya. Penanggap ketiga adalah alumni program kepemudaan yang sukses menjadi entrepreneur, yang membagikan pengalaman praktik dan menanggapi keberlanjutan gagasan.
Wirasena Youth Camp 2026 digelar Kemenpora bersama Pemprov DKI Jakarta pada 21–31 Oktober 2026 di kawasan TIM dan sejumlah lokasi pendukung di Jakarta. Sebanyak ratusan pemuda terpilih dari 38 provinsi mengikuti kegiatan ini, yang berlangsung dalam rangkaian Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 dan menuju 100 tahun Hari Sumpah Pemuda tahun 2028.(Li)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan