Ia menjelaskan, anak yang mengalami stunting serta ibu hamil dan menyusui dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK), apabila tidak disertai penyakit tertentu, tidak seluruhnya dapat mengakses pembiayaan BPJS Kesehatan untuk layanan yang dibutuhkan.

“Kita tidak mau mereka penyakitan dulu. Justru sebelum penyakitan kita cegah bersama-sama. Ini bagian dari upaya preventif,” ujarnya.

Farhan menyebut, angka stunting di Kota Bandung saat ini berada di angka 22,8 persen. Melalui inovasi Kawal Kiwari, Pemkot Bandung berharap deteksi dini, perbaikan gizi dan pendampingan anak dapat berjalan lebih optimal.

Ia juga berharap model layanan yang dikembangkan RSUD Bandung Kiwari tersebut dapat diduplikasi di berbagai fasilitas kesehatan milik Pemkot Bandung sehingga semakin banyak anak memperoleh akses penanganan stunting.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari, Arief Budiman menjelaskan, Klinik Raksa Anak dan aplikasi Tumbuh Kiwari dirancang untuk memperkuat layanan penanganan stunting yang telah berjalan di Kota Bandung.

Menurut Arief, program tersebut melengkapi upaya Dinas Kesehatan Kota Bandung melalui inovasi Zero New Stunting.

Jika program pencegahan berfokus pada upaya menekan munculnya kasus baru, Kawal Kiwari memperkuat penanganan anak yang sudah mengalami stunting melalui perbaikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang.

“Kami ini merupakan program terobosan di hilir. Anak-anak yang mengalami stunting ingin kami bantu melalui perbaikan gizinya sehingga ke depannya mereka berpotensi tumbuh dan berkembang secara optimal,” tuturnya. (Fi)