Ia berharap momentum tersebut dapat terus dijaga melalui kolaborasi pemerintah, ulama, dan pelaku usaha.
Farhan selanjutnya mendorong MUI bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bandung untuk mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak dan sedekah.
Menurutnya, potensi dana umat di Kota Bandung masih besar sehingga perlu digarap melalui metode penghimpunan yang modern, transparan dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Saya sangat mengharapkan Majelis Ulama Indonesia dapat berijtihad bersama dengan Baznas mencari berbagai macam kemungkinan dan cara komunikasi untuk penggalangan dana umat,” kata Farhan.
Ia menilai, peningkatan partisipasi masyarakat dalam menyalurkan dana umat dapat memperluas manfaat program sosial, khususnya bagi warga yang membutuhkan bantuan.
Farhan mencontohkan, peningkatan kontribusi masyarakat secara bertahap dapat memberikan dampak signifikan apabila dilakukan secara luas dan berkelanjutan.
Karena itu, ia berharap MUI dan Baznas dapat merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan sekaligus partisipasi masyarakat dalam kegiatan filantropi Islam.
Persoalan perubahan iklim dan risiko bencana juga menjadi perhatian Farhan. Ia mengingatkan bahwa perubahan pola musim dan intensitas hujan berpotensi meningkatkan ancaman bencana di wilayah perkotaan.
Untuk itu, ia mengajak MUI menyusun kajian keagamaan yang dapat memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana.
“Saya sangat mengharapkan Majelis Ulama melakukan kajian terhadap dalil-dalil yang menguatkan kemampuan warga Kota Bandung menjadi warga tangguh bencana,” pintanya.
Farhan mengusulkan kolaborasi antara MUI, Pemkot Bandung dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Salah satu cara yang dinilai efektif adalah memanfaatkan jaringan masjid untuk menyampaikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
“Karena salah satu metode edukasi tentang masyarakat tangguh bencana yang paling efektif, saya yakin, adalah melalui toa masjid,” katanya.
Selain edukasi kebencanaan, Farhan juga menyoroti pentingnya penyediaan sarana air bersih. Ia meminta dukungan para ulama dalam pendataan masjid yang telah berstatus wakaf sebagai salah satu upaya mendukung perencanaan fasilitas air bersih bagi masyarakat.
Farhan menyebut cakupan layanan jaringan air bersih perpipaan di Kota Bandung masih sekitar 38 persen. Karena itu, penyediaan alternatif sarana air bersih menjadi kebutuhan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Terakhir yang dititipkan Farhan kepada pengurus MUI adalah penanganan sampah. Ia menyebut Pemkot Bandung terus mengembangkan metode pengolahan sampah, tetapi upaya tersebut harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat.
Menurutnya, pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pemrosesan akhir.
“Saya sangat mengharapkan Majelis Ulama bersama para kiai, bersama para ustaz dan ustazah agar melakukan edukasi tentang pemilahan sampah,” tegasnya.
Farhan menjelaskan, Pemkot Bandung merencanakan pengembangan pengolahan sampah organik melalui kompos di tingkat kewilayahan. Program tersebut diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah rumah tangga secara bertahap.
Ia berharap, masjid dan tokoh agama dapat menjadi bagian dari gerakan edukasi lingkungan, sehingga kesadaran memilah sampah dapat tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat.(Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan