Ia menegaskan, petani diharapkan tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga memperoleh manfaat lebih besar dari pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan nilai tambah.
“Kita ingin petani bukan hanya menjadi produsen, tetapi juga menikmati nilai tambah dari pertumbuhan ekonomi daerah,” lanjut Supriyadi.
Pada sektor perdagangan, Supriyadi menyebut Riau memiliki posisi strategis dalam perdagangan nasional maupun internasional. Karena itu, perkembangan ekspor dan impor menjadi salah satu indikator yang penting untuk melihat daya saing perekonomian daerah.
Namun, menurutnya, pembangunan sektor perdagangan ke depan tidak cukup hanya mengejar peningkatan volume ekspor. Nilai tambah juga perlu diperkuat melalui hilirisasi, diversifikasi produk, perluasan pasar dan penguatan industri pengolahan.
Sementara pada sektor pariwisata, Riau dinilai memiliki modal yang cukup besar melalui kekayaan alam, sejarah, budaya, kuliner dan tradisi yang tersebar di berbagai daerah.
“Keberhasilan pariwisata tidak hanya dilihat dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari lama tinggal, belanja wisatawan, berkembangnya usaha, terbukanya lapangan kerja, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” ujar Supriyadi.
Ia menambahkan, berbagai indikator statistik tersebut memberikan satu pesan penting bahwa pembangunan daerah harus dilakukan berdasarkan bukti dan data, bukan sekadar persepsi.
“Pembangunan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan persepsi. Pembangunan harus dibangun berdasarkan bukti,” tegasnya.
Pemprov Riau, kata dia, akan terus menjadikan data sebagai bagian penting dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi pembangunan, termasuk dalam mengawal pelaksanaan RPJMD Provinsi Riau 2025–2029.
Supriyadi menekankan, keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan pemerintah, tetapi dari perubahan dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Keberhasilan pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi seberapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia berharap sinergi antara Pemprov Riau dan BPS Riau semakin kuat sehingga budaya kerja berbasis data dapat terus dibangun di lingkungan pemerintahan.
“Mari membangun budaya kerja yang berbasis data, menggunakan statistik bukan hanya untuk menjelaskan masa lalu, tetapi juga membaca masa depan dan menentukan langkah yang lebih tepat,” tuturnya.
Supriyadi juga menyampaikan apresiasi kepada BPS Riau atas konsistensinya dalam menjaga kualitas statistik daerah. Menurutnya, kualitas data akan sangat menentukan ketepatan kebijakan dan intervensi pemerintah.
“Mari kita pastikan setiap kebijakan berbasis data, setiap intervensi tepat sasaran, dan setiap pembangunan benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat Riau,” pungkasnya.(Zt)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan