Farhan menilai, penguatan sektor tersebut penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, termasuk Kota Bandung.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Kota Bandung sebelum pandemi Covid-19 berada di angka sekitar 7,2 persen, sedangkan saat ini berada di kisaran 5,76 persen.

“Kami di Kota Bandung belum pulih. Kami masih berjuang,” ujarnya.

Menurut Farhan, selain sektor jasa, perdagangan, pendidikan dan ekonomi kreatif yang selama ini menjadi kekuatan Kota Bandung, sektor manufaktur juga perlu kembali diperkuat. Pertumbuhan manufaktur saat ini baru sekitar 0,2 persen.

Karena itu, Pemerintah Kota Bandung mendorong pertumbuhan industri manufaktur skala menengah dan kecil sebagai salah satu upaya menggerakkan ekonomi dari tingkat pelaku usaha.

Salah satu dukungan yang tengah diperkuat adalah akses pembiayaan bagi UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bekerja sama dengan Bank BJB.

Farhan mengatakan, Pemkot Bandung sebelumnya telah mempertemukan lebih dari 100 calon penerima KUR dengan komitmen pembiayaan mencapai Rp10,3 miliar. Hingga saat ini, realisasi pembiayaan tersebut telah mencapai sekitar Rp2,4 miliar.

“Kita akan dorong terus. Pengembangan ini juga akan menjadi platform kerja sama keuangan, akses modal dan peningkatan kelas para pelaku usaha menjadi pelaku usaha yang bankable,” katanya.

Menurut Farhan, proses menjadi pelaku usaha yang bankable juga mendorong UMKM untuk membenahi tata kelola bisnis, mulai dari pembukuan, penyusunan rencana bisnis hingga pengelolaan keuangan yang sehat.

Farhan berharap Rakerda Dekranasda Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat perajin dan pelaku UMKM agar semakin berkembang.

“Semoga bisa memberikan sebuah hasil yang memastikan bahwa Dekranasda selalu hadir untuk membantu perajin dan pelaku UMKM agar naik kelas, memperluas pasar dan meningkatkan kualitas produk serta menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih baik bagi warga Jawa Barat,” harapnya.(Fi)