Sebab, di beberapa titik, asap yang muncul ketika dibuka menggunakan alat berat menunjukkan bahwa api yang terlihat di permukaan telah padam, tetapi masih menyimpan bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
“Jadi kita menduga itu belum padam. Memang ada yang belum terjangkau karena kesulitan akses. Dan memang harus secara bertahap dibuka, kemudian disiram, dibuka, disiram. Cuma memang memakan waktu. Perkembangan atau percepatan membesarnya api ini juga bergantung pada cuaca. Kalau angin besar, bisa bertambah,” ujar Dedie Rachim.
Dilihat dari karakter sampah yang telah menumpuk selama bertahun-tahun, kondisi tersebut membuat teksturnya seperti briket dan keras, sehingga memiliki kandungan kalori yang menyebabkan potensi untuk terbakar.
Kondisi itu menjadi risiko yang harus dihadapi dalam proses pemadaman yang masih terus dilakukan.
“Proses ini kita lakukan paling tidak sampai pukul 2 hingga pukul 3 dini hari, karena kita menyesuaikan dengan ketersediaan suplai air. Karena pada pukul 3 itu kebutuhan air masyarakat mulai meningkat,” ujarnya.
Pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Lanud ATS agar pelaksanaan water bombing tetap dilakukan. Metode tersebut akan terus diupayakan sebagai bagian dari strategi pemadaman.
Sebab, proses pemadaman tidak hanya menggunakan satu metode melalui jalur darat, tetapi juga terus dilakukan melalui jalur udara.
“Memang segala cara harus kita upayakan,” ujarnya.(Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan