Kokos mengatakan, konsep penjualan yang dikembangkan adalah ekspor tenteng, yakni produk yang mudah dibawa wisatawan saat kembali ke negara asal. Konsep ini dinilai relevan dengan kondisi bagasi pesawat yang semakin terbatas.

Potensi tersebut mendapat apresiasi dari Nawal Arafah Yasin. Menurutnya, produk UMKM Jawa Tengah memiliki kekuatan yang dapat menjadi daya tarik di pasar global, terutama karena ditopang kekayaan budaya dan keragaman wastra dari berbagai daerah.

“Yang paling menarik ini adalah potensi di Jawa Tengah, bagaimana produk-produk ini basisnya adalah kekuatan Kebudayaannya. Sehingga itu bisa kita jual. Jadi, wastra-wastranya sangat beragam,” kata dia, seusai berkeliling pameran.

Nawal mencontohkan, keberagaman produk wastra Jawa Tengah, mulai dari ecoprint, jumputan, hingga batik dengan ciri khas yang berbeda di setiap daerah. Misalnya, batik asal Pekalongan memiliki ciri khas dan filosofi yang berbeda dengan asal Batang.

“Kemudian di Jepara kita juga lihat tadi ada tenunnya. Jadi, dari 35 stan kabupaten/kota ini, kita melihat banyak sekali wastra yang memiliki ciri khas yang luar biasa,” ujar Nawal.

Pada kegiatan tersebut, Nawal Arafah juga meluncurkan Klinik Ekspor yang akan beroperasi di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng. Klinik tersebut sebagai wadah konsultasi bagi pelaku usaha, yang ingin mendapatkan informasi serta pendampingan untuk mengakses pasar luar negeri.

Serupa dengan Arah Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, hal itu merupakan upaya penguatan agar produk UMKM Jateng tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar internasional.

“Jadi, klinik ini yang pertama nantinya bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bagaimana caranya UMKM-UMKM ini bisa ekspor. Kemudian pendampingan mengenai legalitas, administrasi, juga untuk meningkatkan kapasitas, standarisasi produk, bisa kemudian konsultasi di klinik ekspor ini,” ungkap Nawal.(Ft)