Selanjutnya, fase Kedua merupakan pelaksanaan pelatihan intensif bagi para pelatih lokal yang memiliki komitmen kuat untuk menggerakkan olahraga disabilitas di daerah masing-masing.
“Fase Ketiga merupakan aktualisasi, yakni periode implementasi langsung di mana para pelatih menerapkan keterampilan yang didapat ke tingkat komunitas atau kelompok disabilitas.” tambahnya.
Ditambahkannya , fase selanjutnya adalah monitoring dan evaluasi, yang merupakan tahap pengawasan, evaluasi dampak program, serta finalisasi laporan capaian.
Agenda ToT yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh 120 peserta penggerak olahraga disabilitas dari wilayah Kabupaten Majalengka. Untuk memastikan mutu pelatihan, Kemenpora menghadirkan para pakar kepelatihan olahraga adaptif dari berbagai unsur, termasuk akademisi.
Selama pelatihan, para peserta dibekali dengan berbagai materi komprehensif, antara lain, Olahraga Adaptif dan Para Sport. Membahas konsep dasar olahraga disabilitas, cabang olahraga paralimpik, serta sistem pembinaannya.
Klasifikasi Olahraga Disabilitas adalah pengenalan karakteristik olahraga berdasarkan jenis hambatan yang dihadapi. Metode Pelatihan Adaptif, yang mengajarkan rinsip-prinsip dasar dalam menyusun dan melaksanakan program latihan yang ramah bagi atlet disabilitas.
Identifikasi Bakat merupakan teknik dan metode untuk menemukan potensi olahraga adaptif sejak dini pada penyandang disabilitas.
“Melalui program ini, Kemenpora berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi pemenuhan hak berolahraga yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.” tutup Arsani.(Red)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan