Medan,Pilarbangsa.comPemerintah kota (Pemko) tidak boleh hanya berlomba membangun gedung tinggi dan menggerakkan ekonomi, tetapi juga harus memastikan lingkungan tetap lestari sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Pesan itu disampaikan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, saat memberikan sambutan pada pembukaan Forum Lingkungan Hidup dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI 2026 di Grand Lotus Aryaduta, Selasa (30/6/2026).

Di hadapan kepala daerah, kepala dinas lingkungan hidup, serta para pegiat lingkungan dari berbagai kota di Indonesia, Rico Waas menegaskan, menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar pembangunan kota dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Jangan wariskan cerita sedih untuk anak cucu kita,” kata Rico Waas, mengutip pesan peraih Kalpataru 2024, Wibi Nugraha, yang menurutnya harus menjadi pedoman seluruh pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan.

Menurut Rico Waas, pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi, dan promosi daerah memang penting. Namun, seluruh upaya tersebut tidak akan berarti jika lingkungan hidup diabaikan.

“Tidak akan ada kota yang bisa sustainable apabila lingkungan hidupnya tidak terjaga,” tegasnya.

Rico Waas mengingatkan, setiap kepala daerah memiliki tanggung jawab meninggalkan legacy yang baik. Kepemimpinan, katanya, bukan hanya menghasilkan capaian selama masa jabatan, tetapi juga memastikan generasi berikutnya dapat menikmati kota yang lebih sehat dan layak huni.

Karena itu, Forum Lingkungan Hidup diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman antarkota mengenai berbagai inovasi dan praktik terbaik dalam pengelolaan lingkungan.

“Medan butuh belajar dengan kota lain, kota lain mungkin perlu belajar dengan Kota Medan. Kita sama-sama berbagi success story agar kota-kota kita semakin hijau dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rico Waas juga memaparkan tantangan pengelolaan sampah di Kota Medan. Setiap hari, Kota Medan menghasilkan sekitar 1.500 hingga 1.700 ton sampah. Angka tersebut dipengaruhi jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa yang pada siang hari dapat meningkat hingga sekitar 4 juta orang karena Medan menjadi pusat aktivitas ekonomi kawasan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemko Medan terus melakukan berbagai langkah, termasuk pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kota Medan menjadi salah satu daerah yang ditunjuk sebagai pionir pelaksanaan proyek tersebut dan pembangunan ditargetkan mulai berjalan pada akhir tahun ini.

Menurut Rico Waas, pengelolaan sampah harus berorientasi pada pengurangan volume sejak dari sumbernya sehingga mampu memberikan dampak nyata terhadap kualitas lingkungan.

Mengangkat tema “Dari Komitmen ke Aksi: Tangguh untuk Mempercepat Penurunan Emisi di Indonesia”, Rico Waas mengajak seluruh peserta tidak berhenti pada diskusi dan komitmen semata.

“Kita pulang ke kota masing-masing harus membawa aksi nyata. Jangan hanya berbicara di ruang ini, tetapi wujudkan komitmen itu menjadi program yang benar-benar dirasakan masyarakat,” pesannya.

Forum Lingkungan Hidup kemudian secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim APEKSI, Illiza Sa’aduddin Djamal.

Dalam sambutannya, Illiza mengapresiasi Pemko Medan sebagai tuan rumah Rakernas APEKSI sekaligus penyelenggara Forum Lingkungan Hidup. Ia juga memuji kepemimpinan Rico Waas yang dinilainya mulai menghadirkan perubahan bagi Kota Medan.

“Saya masuk ke Kota Medan sudah terasa perubahan tangan anak muda memimpin Kota Medan saat ini. Insya Allah ke depan Kota Medan akan menjadi kota yang tangguh, kota yang hijau, dan masyarakatnya semakin sejahtera,” ujarnya.

Illiza menilai tema forum sangat relevan dengan kondisi saat ini karena dampak perubahan iklim sudah dirasakan di berbagai daerah, mulai dari cuaca yang semakin tidak menentu, banjir, kekeringan, gelombang panas, hingga abrasi pantai.

Menurutnya, kota-kota di Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam menghadapi krisis iklim, melainkan harus menjadi pelaku utama melalui kebijakan yang konkret.

Ia juga menekankan bahwa persoalan sampah menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus segera diatasi. Kota yang bersih, katanya, bukanlah kota yang rajin dibersihkan, melainkan kota yang mampu mengendalikan sumber sampahnya melalui perubahan perilaku masyarakat, pemilahan sampah, serta optimalisasi bank sampah.

Forum Lingkungan Hidup ini turut dihadiri Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup Ir. Ari Sudijanto, M.Si., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan Elfi Marfianti, serta para kepala dinas lingkungan hidup dan perwakilan pemerintah kota dari seluruh Indonesia.(Mp)