“Nama ini sebagai simbol penguatan budaya antikorupsi dan integritas di ruang publik strategis. Penamaan baru ini diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan integritas,” jelasnya.
Gubernur Pramono menilai pesan integritas perlu hadir di ruang publik yang setiap hari dilalui masyarakat. Halte di koridor sibuk tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai simpul mobilitas, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya budaya antikorupsi.
“Penyesuaian sistem penamaan, baik pada petunjuk arah (signage), peta rute, hingga pengumuman suara (announcement) di dalam armada bus, secara bertahap telah diperbarui demi kenyamanan dan kelancaran perjalanan seluruh pelanggan,” ucapnya.
Penataan Jalan H.R. Rasuna Said diharapkan meningkatkan kualitas layanan jalan dan mendukung kelancaran lalu lintas di kawasan segitiga emas Jakarta. Penyelesaian ini juga menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta menghadirkan wajah kota yang lebih tertata tanpa menyisakan infrastruktur mangkrak.
“Saya berharap momentum ini dapat meningkatkan komitmen dari PT Transjakarta sebagai pemacu dalam menghadirkan contoh pelayanan publik terbaik, bersih, terintegrasi, dan transparan bagi seluruh warga Jakarta,” pungkas Gubernur Pramono.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007, Sutiyoso, mengaku terharu melihat perubahan kawasan yang sebelumnya terganggu oleh keberadaan tiang monorel terbengkalai. Ia mengapresiasi langkah Gubernur Pramono yang merespons persoalan tersebut dan menyelesaikan penataannya dalam waktu relatif singkat.
“Sekarang indah dan nyaman untuk banyak orang. Atas nama masyarakat, khususnya yang sering melintas di Rasuna Said, saya mengucapkan, ‘Maturnuwun, Mas Pram. Terima kasih,’” ujar Sutiyoso.(Li)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan