Penerapan teknologi tersebut dilakukan secara bertahap pada sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan warga, mulai dari mobilitas, layanan publik, pengelolaan data spasial, penguatan ekonomi lokal, hingga tim pengendalian inflasi daerah (TPID).
“Pemanfaatan teknologi dan AI mulai diterapkan dalam tata kelola kota. Contohnya melalui Intelligent Traffic Control System, JAKI, Jakarta Satu, digitalisasi pasar tradisional dan UMKM, serta pemanfaatan teknologi oleh TPID untuk menjaga stabilitas harga dan inflasi Jakarta yang pada Mei 2026 tercatat 2,49 persen year on year,” paparnya.
Di bidang mitigasi banjir, Pemprov DKI Jakarta juga mengoptimalkan kamera pengawas atau CCTV yang terkoneksi dengan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta. Sistem tersebut dapat dipantau masyarakat melalui situs resmi www.pantaubanjir.com dan menjadi bagian dari dukungan pengambilan keputusan di lapangan.
“Sistem terintegrasi ini menjadi backbone bagi command center Dinas SDA untuk mengambil keputusan cepat dan akurat terkait pengoperasian pintu air serta pompa secara real time, khususnya saat wilayah ibu kota memasuki status siaga musim hujan,” jelas Gubernur Pramono.
Selain penguatan teknologi, ia menegaskan transformasi Jakarta juga harus memastikan akses layanan publik yang semakin inklusif. Di sektor transportasi, konektivitas transportasi publik Jakarta saat ini telah mencapai 93 persen dan terus dikembangkan agar lebih ramah bagi penyandang disabilitas, lansia, serta kelompok rentan.
“Moda seperti MRT dan Transjakarta terus dikembangkan agar ramah terhadap penyandang disabilitas serta lansia,” tuturnya.
Gubernur Pramono menambahkan, pemanfaatan teknologi harus tetap diarahkan untuk menjawab kebutuhan warga. Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya memperkuat daya saing Jakarta di tingkat global, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat sehari-hari.(Li)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan