“Menjaga kesehatan fisik itu penting, tetapi kesehatan jiwa juga sama pentingnya. Sama seperti kita rutin memeriksakan kesehatan gigi atau kesehatan tubuh lainnya, kesehatan mental juga perlu dijaga. Mencari bantuan psikolog bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Endang mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap layanan kesehatan jiwa dan mulai terbuka terhadap pentingnya konseling maupun dukungan psikologis.

Menurutnya, layanan kesehatan jiwa sebenarnya telah tersedia di seluruh puskesmas di Kota Bandung, sementara layanan psikolog klinis saat ini baru tersedia di 12 puskesmas.

Ia mengungkapkan bahwa peningkatan layanan kesehatan mental didorong oleh tren kenaikan kasus gangguan jiwa dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data yang dihimpun dari 80 puskesmas di Kota Bandung, jumlah kasus orang dengan gangguan jiwa berat terus meningkat dari 4.261 kasus pada 2022 menjadi 5.272 kasus pada 2025.

Selain gangguan jiwa berat, berbagai masalah kesehatan mental lainnya seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur, hingga gangguan bipolar juga menunjukkan tren peningkatan dalam periode yang sama.

“Data menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa terus meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diperlukan penanganan yang lebih komprehensif agar masyarakat bisa mendapatkan bantuan lebih cepat dan lebih mudah. Kehadiran psikolog klinis di puskesmas menjadi salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut,” jelasnya.

Melalui penguatan layanan kesehatan mental di tingkat puskesmas, Dinas Kesehatan Kota Bandung berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan akses bantuan psikologis, sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang sehat secara fisik maupun mental.

“Sehat fisik dan sehat jiwa adalah satu kesatuan. Harapannya, seluruh warga Kota Bandung dapat hidup lebih sehat, lebih bahagia, dan tidak ragu untuk mencari bantuan ketika membutuhkan dukungan kesehatan mental,” pungkas Endang.(Fi)