Bella menambahkan, ketika fase aktif MJO melintas di Indonesia, peluang pembentukan awan meningkat drastis. Namun sebaliknya, jika fenomena ini tidak aktif, intensitas hujan di Riau akan berkurang secara signifikan.
Senada dengan Bella, Forecaster On Duty Gita Dewi Siregar mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir, curah hujan di Riau sebenarnya cenderung menurun dan tidak merata. Namun, beberapa titik masih mengalami hujan lebat akibat adanya daerah belokan angin (shearline).
“Ditinjau dari arah angin, diperkirakan terdapat daerah belokan angin atau shearline di wilayah Riau yang mendukung pertumbuhan awan hujan secara sporadis,” jelas Gita.
Berdasarkan analisis data BMKG untuk periode 11 hingga 17 Mei 2026, berikut adalah jadwal prakiraan hujan di berbagai kabupaten/kota:
-
Rokan Hulu: 11, 12, 13, dan 15 Mei.
-
Rokan Hilir, Kampar, & Indragiri Hilir: 12 hingga 15 Mei.
-
Kuantan Singingi: 12 hingga 16 Mei.
-
Pekanbaru: 12 dan 15 Mei.
-
Siak: 12, 13, 15, dan 16 Mei.
-
Pelalawan: 12, 13, dan 15 Mei.
-
Indragiri Hulu: 12, 13, 15, dan 17 Mei.
-
Bengkalis: 12, 15, dan 16 Mei.
-
Dumai & Kepulauan Meranti: 15 Mei.
Selama masa peralihan ini, suhu udara di wilayah Riau diprakirakan berada pada kisaran 22 hingga 33 derajat Celcius dengan kelembaban udara mencapai 50 hingga 99 persen. Angin umumnya bertiup dari arah Timur hingga Selatan dengan kecepatan 10 hingga 30 km/jam.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang kerap muncul di masa pancaroba, terutama hujan lebat yang disertai angin kencang pada sore atau malam hari.
“Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG agar tetap waspada selama masa transisi ini sebelum memasuki musim kemarau penuh di akhir bulan nanti,” pungkas Bella.(Zt)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan