UMBULHARJO,Pilarbangsa.com  – Persiapan pelaksanaan Gerakan Jogja Berhati Nyaman melalui aksi kebersihan dan gotong royong yang akan digelar serentak pada hari Jumat (24/4) telah siap dilaksanakan.

Gerakan kebersihan dan gotong royong tersebut akan dilaksanakan di 150 titik di seluruh Kota Yogyakarta dengan melibatkan sekitar 4.500 Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Hal itu disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat memberikan arahan dalam Apel Sore Gerakan Jogja Berhati Nyaman di Plaza Balai Kota Yogyakarta, Kamis (23/4). Ia menyebut kegiatan kerja bakti akan rutin dilakukan setiap hari Jumat mulai pukul 07.00 hingga 08.30 WIB.

Dalam arahannya, Hasto mewajibkan setiap ASN membawa minimal dua alat kebersihan. Salah satunya harus berupa sapu, sedangkan alat kedua dapat disesuaikan seperti sabit, pacul, gatul, atau alat kebersihan lainnya.

“Minimal dua alat. Satu sapu, satunya lagi boleh memilih membawa sabit, pacul, gatul, atau yang lain. Jangan sampai saat kerja bakti malah hanya pegang HP untuk selfie,” ungkapnya.

Ia menambahkan, alat kebersihan tersebut tidak dikumpulkan ke dinas, melainkan dibawa pulang untuk digunakan kembali di rumah dan dibawa lagi pada kerja bakti pekan berikutnya.

Menurutnya, sampah yang akan banyak ditemui saat kerja bakti mayoritas berupa daun kering, rumput liar, dan sampah organik lainnya.
Pihaknya meminta ASN tidak hanya menyapu daun, tetapi juga mencabut rumput hingga ke akar agar area yang dibersihkan tetap rapi lebih lama.

“Rumput itu lebih bagus dicabut daripada dipotong. Kalau dicabut, minggu depan masih bersih. Kalau dipotong, cepat tumbuh lagi,” katanya.
Selain itu, Hasto meminta setiap kelompok menyiapkan karung atau plastik untuk menampung sampah hasil kerja bakti. Ia menyebut biaya penyediaan karung cukup murah dan dapat disiapkan secara mandiri oleh masing-masing.

“Jika ada  banyak rumput liar tumbuh di sela-sela trotoar dan jalan maka area tersebut menjadi fokus utama pembersihan agar wajah kota terlihat lebih rapi dan indah. Karena kita punya cita-cita Kota Yogyakarta menjadi The Little Singapore. Bukan menjadi kota industri atau kota dagang seperti Singapura, tetapi meniru kedisiplinan, kebersihan, dan keindahannya,” jelas Hasto.

Menurutnya, Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam yang bisa dijual, sehingga kebersihan, kenyamanan, budaya, dan pariwisata menjadi modal utama untuk menarik wisatawan.

“Yang kita jual itu potensi wisata, budaya, kondisi yang bersih dan indah. Oleh karena itu kita harus gotong royong menjaga lingkungan,” katanya.
Hasto juga menyampaikan apresiasi atas upaya penanganan sampah yang mulai menunjukkan hasil signifikan. Ia menyebut jumlah depo sampah di Kota Yogyakarta yang sebelumnya mencapai 45 titik kini telah berkurang menjadi 13 titik.
Depo-depo tersebut kini difungsikan hanya sebagai titik transit atau meeting point, sehingga tidak ada lagi sampah yang menumpuk dan menimbulkan bau.

“Sekarang sampah di THR, Mandala Krida, Pengok, hingga Tamansari sudah tidak mengendap. Hari itu datang, hari itu selesai,” jelasnya.
Ia mencontohkan kawasan Taman Sari yang sebelumnya dipenuhi tumpukan sampah dan dikeluhkan warga karena menimbulkan lalat serta mengotori lingkungan. Kini kawasan tersebut telah dibersihkan dan kembali menjadi taman yang nyaman.

“Spirit kita adalah bagaimana bersih-bersih di Kota Yogyakarta. Dengan gotong royong dan kerja bersama, kita bisa mewujudkan Jogja yang lebih bersih, indah, dan nyaman,” imbuhnya.(Ms)