“Setiap 30 ASN itu fokus di satu titik saja. Jadi nanti akan terlihat mana titik yang bersih dan mana yang belum optimal. Ini akan kita evaluasi, bahkan kita kompetisikan antar titik,” tegasnya.

Untuk memastikan kedisiplinan dan kehadiran ASN, Pemkot Yogyakarta juga akan menerapkan sistem absensi digital di masing-masing lokasi kerja bakti. Sistem ini diharapkan mampu meningkatkan akuntabilitas serta meminimalisir potensi ketidakhadiran tanpa alasan jelas.

Tak hanya itu, Hasto juga menyatakan akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemantauan. Ia ingin memastikan bahwa seluruh ASN benar-benar menjalankan tugas kerja bakti dengan maksimal, bukan sekadar formalitas.

Dalam pelaksanaannya, para ASN diwajibkan membawa peralatan kerja bakti secara mandiri, seperti sekop, gunting rumput, dan perlengkapan kebersihan lainnya. Hasto menekankan bahwa efektivitas kerja bakti sangat bergantung pada kesiapan alat yang digunakan.

“Percuma kerja bakti kalau hanya datang dengan tangan kosong. Harus bawa alat supaya hasilnya maksimal,” ujarnya.

Melalui program ini, pihaknya tidak hanya menargetkan peningkatan kebersihan lingkungan, tetapi juga ingin menumbuhkan kembali semangat gotong royong di kalangan ASN.

“Selain itu, program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar,” jelasnya. (Hs)