“LPK di Bandung ini beragam, ada yang fokus ke pengiriman tenaga kerja ke Jepang, manufaktur, hingga hospitality. Nah, standarisasinya ini yang masih perlu diseragamkan,” jelasnya.
Terkait jenis pelatihan yang diminati, Bariati menyebut sektor kuliner dan pariwisata masih menjadi primadona di Kota Bandung. Pelatihan barista dan pastry menjadi yang paling banyak diminati, seiring menjamurnya kafe dan industri kuliner di kota ini.
Selain itu, pelatihan bahasa juga cukup diminati, terutama bagi masyarakat yang ingin mengikuti program pemagangan ke luar negeri.
Ke depan, Disnaker Kota Bandung akan lebih fokus pada pelatihan berbasis kompetensi dibandingkan pelatihan dasar atau wirausaha pemula. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja.
“Harapannya, melalui pembinaan ini, sumber daya manusia Kota Bandung bisa lebih kompeten dan mampu bersaing di pasar kerja, baik dalam negeri maupun luar negeri,” kata Bariati.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas SDM ini diharapkan dapat berdampak pada penurunan tingkat pengangguran terbuka di Kota Bandung.
“Pada akhirnya, tujuan besarnya adalah menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.(Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan