“Nilai ekspor Riau Februari 2026 mencapai US$1,84 miliar atau turun 0,15 persen dibanding Februari 2025,” jelas Asep.
Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh anjloknya ekspor migas. “Ekspor migas Februari 2026 mencapai US$24,98 juta atau turun 80,01 persen, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$1,81 miliar atau naik 5,66 persen dibanding Februari 2025,” tambahnya.
Secara kumulatif, ekspor migas Januari-Februari 2026 tercatat hanya US$87,29 juta atau turun 63,92 persen. Penurunan ini disebabkan merosotnya ekspor hasil pengolahan minyak sebesar 52,41 persen dan minyak mentah yang turun hingga 89,81 persen.
Dari sisi tujuan ekspor, pasar Asia masih menjadi andalan utama bagi Riau.
“Ekspor nonmigas terbesar adalah ke Tiongkok sebesar US$578,79 juta, disusul India US$466,24 juta, dan Malaysia US$270,55 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,54 persen,” ujar Asep.
Selain itu, ekspor ke kawasan ASEAN mencapai US$579,76 juta, sementara ke Uni Eropa sebesar US$353,94 juta. Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas dari industri pengolahan menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
“Ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Februari 2026 meningkat 16,73 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian turun 15,61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” tutup Asep.
Secara keseluruhan, dominasi komoditas CPO dan produk turunannya menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan ekspor Riau tetap positif pada awal 2026, meskipun sektor migas masih mengalami tekanan cukup dalam. (Ze)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan