“Misalnya di daerah pertanian atau daerah dengan potensi seperti ikan dan lain sebagainya, bisa kok diolah menjadi banyak hal. Misalnya ikan bisa jadi abon, dan sebagainya,” ucap Nawal.
Sementara itu, Owner Singkong Keju D-9, Diah Kristanti, mengungkapkan, dia mulai merintis usaha sejak 2009. Berbagai pengembangan terus dilakukan, hingga kini memiliki kafe yang ramai pengunjung.
Dia menuturkan, di Kampung Singkong ada puluhan UMKM yang per harinya bisa mengolah sekitar tujuh ton singkong. Dalam proses produksi, bahan baku diperoleh dari berbagai daerah, seperti Wonosobo, Temanggung, Magelang, Batang, Salatiga, dan sekitarnya.
Khusus toko yang dia kelola, pihaknya memproduksi beragam olahan singkong, mulai dari singkong keju, keripik, gethuk, spageti singkong, burger singkong, hingga berbagai varian lain.
“Pemasaran produk kami sebagian besar masih di wilayah Jawa Tengah, namun juga sudah menjangkau Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Bali,” ungkap Diah.
Ditambahkan, untuk meningkatkan kualitas dan daya saing, pihaknya terus melakukan inovasi baik dari sisi produk maupun teknologi pengolahan.
“Kampung Singkong menjadi salah satu ikon kebanggaan Kota Salatiga. Harapan kami, semoga pemerintah terus memberi dukungan,” harapnya.(Ft)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan