“Tenaga kerja sekarang ada sekitar 15 orang dari warga sekitar. Ke depan kami ingin lebih banyak lagi masyarakat yang terlibat, mulai dari pekerja kebun, pedagang, penjaga wisata, sampai pelaku seni,” katanya.
Dahwan menargetkan kawasan agrowisata dapat selesai sepenuhnya dalam tiga tahun mendatang, dan menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan, sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto mengatakan, reklamasi bekas tambang menjadi agrowisata, merupakan langkah kecil yang meninggalkan jejak besar bagi lingkungan dan masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa setelah aktivitas penambangan selesai, lahannya bisa direklamasi menjadi tempat yang memiliki nilai tambah ekonomi dan edukasi,” paparnya.
Menurut Agus, Pemprov Jateng juga terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan bersama Indonesia Clean Energy Forum dan berbagai pihak, untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, mengapresiasi langkah reklamasi yang dilakukan CV Jati Kencana. Dia menilai, kawasan bekas tambang yang direstorasi menjadi agrowisata, dapat menciptakan manfaat ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
“Biasanya lokasi tambang yang sudah selesai ditinggalkan begitu saja.Upaya reklamasi seperti ini sangat baik, agar kawasan tetap memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Dukungan juga datang dari warga sekitar. Warga Desa Polosiri, Minarti menyebut, reklamasi lahan tambang membawa dampak positif, karena dibukanya lapangan kerja baru dan memperbaiki kondisi lingkungan.
“Warga sangat mendukung karena masyarakat dilibatkan bekerja, dan lingkungan jadi lebih terjaga kembali,” tandasnya.(Ft)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan