“Kita melakukan pemeriksaan antemortem. Kita periksa dulu secara fisik, sehat. Ketika sudah disembelih, kita lakukan pemeriksaan postmortem. Kita lihat terutama hatinya, paru-parunya apakah sehat atau terpapar penyakit. Misalnya penyakit berbahaya seperti Anthrax dan sudah menyebar ke jaringan-jaringan lainnya, wajib dimusnahkan. Ini menjadi perhatian serius kami untuk melakukan pemantauan, pemeriksaan, dan pengawasan hewan kurban ini selama minimal lima hari nonstop,” terang Sukidi.

 

Sementara itu Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sri Panggarti mengingatkan masyarakat meminta surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) saat membeli hewan kurban untuk memastikan kesehatan hewan. Termasuk untuk hewan kurban dari luar kota dan dari daerah yang terdapat kasus Antraks seperti Gunungkidul harus dilengkapi uji laboratorium yang negatif antraks. Selain antraks, penyakit yang diwaspadai pada hewan kurban ada penyakit mulut dan kuku serta Lumpy Skin Disease (LSD).

 

Hewan kurban yang sehat itu terlihat dari sorot mata ceria dan bulunya halus. Cuping hidung ada yang hitam-hitam itu basah atau lembab. Kalau  kering, kemungkinan besar kita patut curiga demam artinya sakit. Kalau sehat sapi suka mengunyah,” papar Panggarti.

 

Dia menyatakan selama ini hewan kurban di Kota Yogyakarta berasal dari dalam DIY dan luar DIY seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sudah ada aturan terkait lalu lintas hewan. Untuk hewan dari luar DIY harus meminta rekomendasi masuk dari DIY dulu. Salah satunya syaratnya terkait tidak kena penyakit PMK, LSD dan antraks. Saat Iduladha pengawasan dan pemeriksaan  antemortem dan postmortem pada hewan kurban.

 

“Untuk antemortem yang kita lakukan di peternak dan di tempat pemotongan hewan kita pemeriksaan fisik saja. Biasanya masyarakat pasti sudah memilih yang bagus. Kalaupun ada sakit itu biasanya karena kelelahan di perjalanan. Untuk pemeriksaan postmortem setelah dipotong biasanya ada temuan cacing hati. Secara fisik kadang-kadang kalau hati rusak hanya sedikit, tidak kelihatan di fisik. Jadi nanti setelah dipotong itu kelihatan,” jelas Panggarti.((Ms)