UMBULHARJO,Pilarbangsa.com –  Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan kesehatan hewan kurban untuk Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah atau tahun 2026. Baik di tingkat peternak, penjual, sebelum disembelih sampai setelah disembelih dipastikan sehat dan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Untuk itu Pemkot Yogyakarta akan menerjunkan ratusan petugas pemeriksaan dan pemantauan hewan kurban.

 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sukidi mengatakan  sesuai ketentuan penyembelihan hewan yang dagingnya diedarkan harus dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH). Kecuali untuk hari besar keagamaan, upacara adat dan pemotongan darurat. Boleh dilakukan di luar RPH dengan pengawasan yang ketat. Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta akan melakukan pemeriksaan dan pemantauan di RPH dan di luar RPH.

 

“Jadi pemotongan hewan untuk Idul Kurban itu ada di dua tempat, yaitu di RPH dan tempat pemotongan di luar RPH. Dan semuanya mendapatkan pengawasan yang ketat dari kami, petugas-petugas yang kami tunjuk,” kata Sukidi saat jumpa pers terkait kesiapan Iduladha di Yogyakarta,  Selasa (12/5/2026).

 

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mencatat pada tahun 2025 ada 610 titik pemotongan hewan kurban dengan 2.477 sapi dan 5.776 kambing dan domba. Sedangkan pada tahun 2026 diprediksi berkurang menjadi sekitar 570 titik pemotongan hewan kurban dengan 2.229 sapi dan 5.723 kambing dan domba. Sedangkan tempat penjualan hewan kurban data sementara ada sekitar 73 titik.

 

“Untuk memastikan hewan kurban yang disembelih baik di RPH maupun di luar RPH sehat, maka Dinas Pertanian menurunkan petugas pemantau dan pemeriksa. Petugas tidak hanya dari Dinas Pertanian dan Pangan, tapi mahasiswa, perhimpunan dokter hewan Indonesia dan paguyuban,” tambahnya.

 

Dia menyebut total ada 265 petugas pemeriksaan dan pemantauan hewan kurban yang akan diterjunkan tahun ini. Jumla itu lebih banyak dibandingkan tahun lalu sekitar 205 petugas. Para petugas itu akan dilepas pada H-1 Iduladha untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan hewan kurban mulai dari malam Iduladha sebelum disembelih (antemortem) dan setelah disembelih (postmortem) saat hari raya serta selama hari Tasyrik.

 

“Kita melakukan pemeriksaan antemortem. Kita periksa dulu secara fisik, sehat. Ketika sudah disembelih, kita lakukan pemeriksaan postmortem. Kita lihat terutama hatinya, paru-parunya apakah sehat atau terpapar penyakit. Misalnya penyakit berbahaya seperti Anthrax dan sudah menyebar ke jaringan-jaringan lainnya, wajib dimusnahkan. Ini menjadi perhatian serius kami untuk melakukan pemantauan, pemeriksaan, dan pengawasan hewan kurban ini selama minimal lima hari nonstop,” terang Sukidi.

 

Sementara itu Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sri Panggarti mengingatkan masyarakat meminta surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) saat membeli hewan kurban untuk memastikan kesehatan hewan. Termasuk untuk hewan kurban dari luar kota dan dari daerah yang terdapat kasus Antraks seperti Gunungkidul harus dilengkapi uji laboratorium yang negatif antraks. Selain antraks, penyakit yang diwaspadai pada hewan kurban ada penyakit mulut dan kuku serta Lumpy Skin Disease (LSD).

 

Hewan kurban yang sehat itu terlihat dari sorot mata ceria dan bulunya halus. Cuping hidung ada yang hitam-hitam itu basah atau lembab. Kalau  kering, kemungkinan besar kita patut curiga demam artinya sakit. Kalau sehat sapi suka mengunyah,” papar Panggarti.

 

Dia menyatakan selama ini hewan kurban di Kota Yogyakarta berasal dari dalam DIY dan luar DIY seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sudah ada aturan terkait lalu lintas hewan. Untuk hewan dari luar DIY harus meminta rekomendasi masuk dari DIY dulu. Salah satunya syaratnya terkait tidak kena penyakit PMK, LSD dan antraks. Saat Iduladha pengawasan dan pemeriksaan  antemortem dan postmortem pada hewan kurban.

 

“Untuk antemortem yang kita lakukan di peternak dan di tempat pemotongan hewan kita pemeriksaan fisik saja. Biasanya masyarakat pasti sudah memilih yang bagus. Kalaupun ada sakit itu biasanya karena kelelahan di perjalanan. Untuk pemeriksaan postmortem setelah dipotong biasanya ada temuan cacing hati. Secara fisik kadang-kadang kalau hati rusak hanya sedikit, tidak kelihatan di fisik. Jadi nanti setelah dipotong itu kelihatan,” jelas Panggarti.((Ms)