SEMARANG,
Selama berbulan-bulan, mereka mengikuti pelatihan, latihan, hingga karantina, sebagai persiapan menuju kompetisi.
Dalam ajang tersebut, Jateng berhasil meraih 208 poin dan menempati peringkat kedua. Kalimantan Timur menjadi juara umum dengan 288 poin, sementara DKI Jakarta berada di posisi ketiga dengan 129 poin.
Salah satu prestasi memuaskan ditorehkan Muhammad Abdul Faqih, kafilah Jawa Tengah yang berhasil meraih juara terbaik pertama pada cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Indonesia putra.
Dia mengungkapkan rasa syukurnya saat menerima penghargaan pada penutupan MTQ Nasional di Lapangan Simpang Lima Semarang, Sabtu (20/9/2026) malam. Terlebih lagi, momen itu disaksikan langsung oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, dan para tamu undangan.
“Bahagia bisa mengharumkan nama daerah sendiri, nama Jawa Tengah. Kami berterima kasih kepada seluruh para guru, orang tua, dan juga yang telah membantu dalam pengembangan saya,” ucapnya, seusai menerima penghargaan.
Menurut Faqih, pencapaian tersebut tidak terlepas dari proses pelatihan yang dilakukan kafilah sejak Januari 2026. Training center dilakukan sebelum para kafilah tampil dalam kompetisi.
Dalam satu bulan, kafilah mengikuti empat kali pelatihan, dua kali dare dan dua kali luring. Persiapan kemudian dilanjutkan dengan karantina selama tiga pekan sebelum pelaksanaan MTQ Nasional.
Tidak hanya mengandalkan program pelatihan, Faqih juga menjalani latihan secara mandiri. Setiap hari, dia melakukan murajaah sedikitnya tiga juz, serta mempelajari berbagai tafsir ulama, seperti Tafsir Al Munir karya Syekh Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al Misbah karya Quraish Shihab.
“Kalau latihan mandiri di rumah juga sering murajaah Quran ya, sehari minimal tiga juz, dan juga mempelajari tafsirnya dengan belajar tafsir-tafsir dari ulama-ulama terdahulu,” ungkap Faqih.
Dituturkan, dia mempelajari Al-Qur’an dan tafsir selama sekitar sepuluh tahun. Lima tahun belajar di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, kemudian lima tahun berikutnya di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan