Umbulharjo,Pilarbangsa.com  – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya memperkuat penanganan tuberkulosis (TB) dan asma melalui pendekatan teknologi kesehatan, perubahan perilaku masyarakat, hingga penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan rumah sakit.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam peringatan Hari Asma dan TB Anak Sedunia di Grha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (9/5).

 

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh UKK Respirologi IDAI Cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Klub Asma Anak Yogyakarta dan Promkes RSUP Dr. Sardjito. Dalam kegiatan ini diisi dengan skrining TB gratis, lomba mewarnai anak, pentas seni Klub Asma Anak Yogyakarta, serta sesi sharing and caring bertajuk Batuk Pada Anak: Asma, Pneumonia atau Tuberkulosis? bersama dokter spesialis anak, yakni dr. Dwikisworo Setyowireni, Sp.A(K), dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K), dr. Amalia Setyati, Sp.A(K), dan dr. Roni Naning, M.Kes, Sp.A(K).

 

Hasto Wardoyo mengapresiasi kolaborasi IDAI, RSUP Dr. Sardjito, perguruan tinggi, serta berbagai pihak yang terus mendukung penguatan layanan kesehatan masyarakat melalui pemeriksaan dan skrining gratis, sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait TB dan asma pada anak.

 

“Kota Jogja saya kira tepat sekali ketika kita melakukan kegiatan-kegiatan yang ada hubungannya dengan TB dan Asma. Bagaimana kita mengatasi TB di Kota Yogyakarta mau tidak mau harus melakukan pendekatan berbasis medical technology yang terkini dan juga menguatkan perubahan perilaku di tengah masyarakat,” ujarnya.

 

 

Menurut Hasto, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan bersih, rumah yang tidak lembap, kepatuhan melakukan skrining, hingga disiplin menjalani pengobatan menjadi faktor penting dalam menekan kasus TB dan gangguan pernapasan pada anak.

 

“Kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang bersih, yang tidak lembap, kemudian juga perilaku yang taat kepada screening dan juga pada pengobatan, saya kira ini betul-betul membutuhkan dukungan dari perilaku masyarakat,” katanya.

 

Ia menambahkan, stunting di Kota Yogyakarta juga sangat dipengaruhi oleh kesehatan lingkungan. Karena itu, pengendalian TB dinilai turut mendukung upaya peningkatan tumbuh kembang anak.

 

“Stunting sudah turun secara signifikan dari 14 persen di awal tahun 2024, sekarang menjadi 9,48 persen. Mudah-mudahan dengan dukungan Bapak-Ibu sekalian kemudian kita bisa lebih turun lagi,” ungkapnya.

 

Sebagai bentuk penguatan surveilans kesehatan masyarakat, Pemkot Yogyakarta juga menggandeng Fakultas Kedokteran UGM dengan menerjunkan 400 mahasiswa kedokteran untuk mendampingi keluarga berisiko tinggi selama masa pendidikan mereka.

 

“Empat ratus mahasiswa Kedokteran itu selama empat tahun mengawal satu keluarga. Ini bisa menjadi bagian surveillance sekaligus penguatan deteksi dini gejala TB maupun pneumonia,” jelas Hasto.