Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga menjalankan program One Village One University dan pendampingan satu kampung oleh tenaga kesehatan sebagai bagian penguatan kesehatan berbasis komunitas.

 

Hasto juga menyebut Pemerintah Kota Yogyakarta tengah mengakses dukungan internasional untuk penanganan kesehatan dan perbaikan rumah tidak layak huni di kawasan bantaran sungai yang berpotensi menjadi sumber penyakit.

 

“Kita melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya preventif,” katanya.

 

Sementara itu, Ketua IDAI DIY, Tunjung Wibowo mengatakan peringatan Hari Asma dan TB Anak Sedunia penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa penyakit seperti asma dan TB dapat dicegah, dikendalikan, serta disembuhkan apabila ditangani dengan baik.

 

“Kadang beberapa penyakit itu bisa ditanggulangi, bisa dicegah, bisa disembuhkan. Supaya nanti tidak menimbulkan stigma-stigma di masyarakat,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, asma pada anak dapat sangat mengganggu kualitas hidup bahkan berpotensi mengancam jiwa apabila serangannya berat. Karena itu, masyarakat perlu memahami cara hidup berdampingan dengan asma agar anak-anak tetap dapat tumbuh dan berprestasi.

 

“Anak-anak asma juga tidak ada kendala untuk bisa mencapai prestasi-prestasi yang diinginkan,” katanya.

 

 

Tunjung juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas lingkungan karena menjadi salah satu faktor pemicu gangguan pernapasan. Selain itu, ia mendorong masyarakat memanfaatkan layanan skrining TB yang disediakan dalam kegiatan tersebut.

 

“Dengan adanya screening TB dan sebagainya kita gerakkan semua itu semoga bisa ketahuan dini, bisa diobati, dan tidak menularkan ke sekitarnya,” ucapnya.

 

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai sarana edukasi dan penguatan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan anak.(Ms)