Sementara itu, melalui pemberdayaan masyarakat, pesantren diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

“Pemerintah juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran pesantren melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama. Penguatan kelembagaan ini diharapkan dapat memperbesar kontribusi pesantren dalam pembangunan nasional, tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi luhur yang telah diwariskan selama ini,” kata Sekda.

Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, santri diharapkan tumbuh menjadi sumber daya manusia yang unggul, mandiri, dan berdaya saing. Penguasaan teknologi serta kemampuan berinovasi perlu berjalan beriringan dengan pengamalan nilai-nilai keislaman, keterbukaan terhadap perubahan, dan komitmen menjaga persaudaraan.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Santri sebagai momentum untuk memperkuat gotong royong, merawat persatuan, menjaga kerukunan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air. Peringatan ini bukan hanya milik santri, pesantren, atau umat Islam, melainkan juga milik seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan dan menjunjung tinggi persatuan.

“Kami mengajak masyarakat mendoakan para ulama, santri, dan pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan serta keutuhan bangsa. Seluruh santri dan keluarga besar pesantren juga diharapkan terus menjaga tradisi, mengembangkan inovasi, mempererat persaudaraan, dan mengabdikan diri bagi negeri,” ujarnya.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026, semangat “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

“Kepada seluruh santri di Indonesia, selamat memperingati Hari Santri Nasional 2026,” ucap.(OP)