“Ini program personalnya Pak Presiden, bukan lewat APBN. Tapi tentu secara pelaksanaan pemanfaatan paling penting adalah pengawasan,” ujarnya.

 

Jenal Mutaqin juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Polresta Bogor Kota terkait dengan jalur-jalur yang masih diizinkan dilintasi oleh becak. Termasuk usulan pangkalan becak listrik sebagai tempat untuk melakukan isi daya baterai becak tersebut. Pun soal tarif, Jenal Mutaqin mengatakan bahwa hal itu hanya kesepakatan antara pengayuh dan penumpangnya saja. Namun, ia meminta tarif tidak saling memberatkan antara keduanya.

 

“Untuk penerima bantuan, maka becak lamanya harus ditarik. Agar semangat untuk menyelesaikan permasalahan mengayuh di usia rentan itu sudah terhenti, kita konversi jadi becak listrik. Dan betul-betul ikut mengawal sebelum implementasi dilakukan,” urainya.

 

Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama GSN, Nuryana, menjelaskan bahwa ada perjanjian di atas kertas dengan para penerima becak listrik.

 

Beberapa poinnya adalah komitmen para penerima manfaat untuk senantiasa menjaga dan merawat becak listrik tersebut, serta larangan untuk diperjualbelikan.

 

“Concern Bapak Prabowo tidak hanya masalah nasional. Tapi juga hal-hal kecil yang tidak luput dari perhatian beliau. Salah satu programnya adalah bantuan becak listrik ini,” kata Nuryana.

 

Manfaat dari becak listrik bagi para pengayuh lansia ini salah satunya mengurangi beban tenaga mereka saat beroperasi.

 

“Karena hemat tenaga, sehingga operasionalnya juga bisa lebih panjang,” ujarnya.

 

Salah seorang pengayuh becak, Nana Suryana (65), mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas bantuan becak listrik yang diterimanya itu.

 

“Terima kasih Bapak Presiden atas bantuan ini. Semoga ini bisa bermanfaat dan menambah rezeki bagi kami,” ungkapnya.(Red)