Ia juga meminta Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) memperluas publikasi mengenai lokasi binaan. Langkah ini diharapkan membantu pedagang mendapatkan kembali pelanggan setelah berpindah tempat.
Lebih lanjut Gubernur Pramono menegaskan penataan dilakukan dengan pendekatan humanis, tetapi tetap memiliki batas yang jelas.
“Prinsip utama kami adalah mengedepankan pendekatan yang humanis dengan menyediakan tempat relokasi yang layak. Namun, jika di kemudian hari masih ada yang kembali berjualan di badan jalan, penertiban dan sanksi tegas akan tetap diberlakukan,” tegasnya.
Pemprov DKI juga menyiapkan lokasi penyangga untuk mengatasi keterbatasan daya tampung sementara di lokasi utama. Lahan tambahan tersebut berada tidak jauh dari kawasan Kramat Jati dan ditargetkan siap dalam tiga pekan. Gubernur Pramono mengatakan lokasi tambahan telah dikoordinasikan dengan perwakilan pedagang.
“Kami optimistis dalam waktu tiga minggu ke depan tempat penampungan tambahan tersebut siap digunakan sehingga seluruh pedagang tertampung secara sempurna,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Pedagang Subuh Kramat Jati, Muhtarom, menyambut baik penataan yang dilakukan melalui dialog dengan pedagang. Ia mengatakan para pedagang telah diimbau untuk menggunakan lokasi binaan yang disediakan pemerintah.
“Kami telah mengimbau seluruh pedagang pasar subuh untuk masuk dan memanfaatkan fasilitas lokasi binaan yang telah disediakan oleh pemerintah daerah,” ujar Muhtarom.
Ia juga mengapresiasi perhatian Pemprov DKI dan berharap komunikasi antara pemerintah dan pedagang terus berjalan selama masa transisi.
“Kami berterima kasih atas kebijakan dan perhatian Bapak Gubernur, serta kami berkomitmen menjaga ketertiban bersama selama proses penyiapan sarana tambahan berlangsung,” pungkas Muhtarom.(Li)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan