Masyarakat harus ikut dilibatkan sebagai mitra utama karena mereka merupakan pihak yang berada paling dekat dengan lokasi dan dapat menjadi garda terdepan dalam mendeteksi serta mencegah kebakaran,” ujar Muller.

Dari pemetaan sisi kawasan rawan, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Riau Edy Afrizal mencatat potensi kerawanan Karhutla di wilayahnya tersebar di 159 desa dan kelurahan yang mencakup 65 kecamatan di 12 kabupaten dan kota.

“Saat ini daerah rawan Karhutla di Provinsi Riau tersebar di 159 desa dan kelurahan. Semuanya tersebar di 65 kecamatan yang ada di 12 kabupaten dan kota,” ujar Edy.

Edy berpikir bahwa sebaran desa rawan terbanyak berada di Rokan Hilir dengan 35 desa, disusul Indragiri Hilir 28 desa, Pelalawan 22 desa, dan Bengkalis 16 desa. Sementara wilayah lainnya tersebar di Kepulauan Meranti dengan 14 desa, Siak, Dumai, dan Indragiri Hulu masing-masing 11 desa, Kampar 4 desa, Pekanbaru 3 kelurahan, serta Kuantan Singingi dan Rokan Hulu masing-masing 2 desa.

Melihat tingginya risiko kerawanan tersebut, Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status SIAGA Darurat Karhutla terhitung mulai 13 Februari hingga 30 November 2026. Penetapan status ini menjadi landasan penguatan mitigasi bencana di seluruh wilayah kabupaten dan kota se-Provinsi Riau.

Untuk mendukung langkah pencegahan dini di tengah ancaman kemarau, transmisi informasi prakiraan cuaca regional melalui media massa dan BMKG terus diintensifkan. Manajemen perusahaan diharapkan aktif menjaga kondisi iklim harian guna menyesuaikan tingkat kewaspadaan dan pembasahan lahan di area rawan secara berkelanjutan.(Zt)