Menurut Illiza, keberadaan WCP merupakan salah satu langkah strategis dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan. Melalui fasilitas tersebut, sampah dipilah sejak dari sumber sehingga dapat mengurangi beban sampah yang dibawa ke tempat pemrosesan akhir, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pengolahan sampah yang memiliki nilai jual.

Selain itu, Gampong Baru juga aktif mengembangkan sektor pertanian perkotaan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT). Berbagai komoditas seperti cabai, bawang, kacang tanah hingga tanaman hidroponik dibudidayakan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Program Kampung Proklim bukan hanya tentang menjaga kebersihan lingkungan. Lebih dari itu, program ini membangun budaya hidup bersih, memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim, mendorong pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi, sekaligus menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman untuk ditinggali,” katanya.

Illiza berharap keberhasilan Gampong Baru dapat menjadi inspirasi bagi gampong-gampong lain di Banda Aceh untuk terus mengembangkan inovasi lingkungan secara berkelanjutan.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Jika setiap gampong bergerak dengan semangat gotong royong, saya yakin Banda Aceh akan menjadi kota yang semakin bersih, hijau, tangguh menghadapi perubahan iklim, serta nyaman bagi generasi hari ini maupun masa depan,” pungkasnya.

Melalui penguatan Kampung Proklim, Pemerintah Kota Banda Aceh terus mendorong lahirnya gampong-gampong yang mandiri dalam pengelolaan lingkungan, adaptif terhadap perubahan iklim, serta mampu menjadi contoh pembangunan berkelanjutan yang berbasis partisipasi masyarakat.(Hr)