Sementara itu, lima daerah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah adalah Kota Semarang sebesar Rp6,57 triliun, Kabupaten Kendal Rp6,56 triliun, Kabupaten Batang Rp6,11 triliun, Kabupaten Temanggung Rp4,58 triliun, dan Kabupaten Demak Rp3,34 triliun.

Sedangkan sektor manufaktur masih mendominasi lanskap investasi di Jawa Tengah, yakni Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki sebesar Rp5,85 triliun (18,02 persen), Industri Karet dan Plastik Rp5,10 triliun (15,12 persen), Industri Kayu Rp4,73 triliun (8,42 persen), Industri Mesin, Elektronik, dan Alat Kedokteran Rp4,21 triliun (8,15 persen), serta Industri Tekstil Rp3,92 triliun (7,96 persen).

Lima daerah dengan penyerapan tenaga kerja terbesar adalah Kota Semarang sebanyak 33.900 orang, yang sebagian besar didominasi sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Selanjutnya Kabupaten Kendal sebanyak 19.386 orang, Kabupaten Brebes 18.203 orang, Kabupaten Jepara 17.338 orang, dan Kabupaten Semarang 15.854 orang.

Guna menggalakkan investasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mendorong daerah-daerah untuk mengembangkan kawasan industri. Langkah tersebut dilakukan guna mendukung ketersediaan infrastruktur, dan memberikan kemudahan bagi investor yang membangun modal di kawasan yang telah diperuntukkan sebagai kawasan industri.

Ditargetkan, akan ada 12 kawasan industri baru, meliputi Rembang, Demak, Kota Semarang, Kendal, Batang, Brebes, Kabupaten Semarang, Grobogan, Boyolali, Kebumen, Banyumas, dan Cilacap.

“Atas Arahan Pak Gubernur Ahmad Luthfi, kami di DPMPTSP melakukan identifikasi terhadap 35 kabupaten/kota. Alhamdulillah ada enam lokasi, yaitu Rembang, Kendal, Pemalang, Demak (Pantura), Sukoharjo, dan Grobogan, yang telah diminati investor untuk menjadi kawasan industri. Kami juga akan melakukan pengawalan terhadap seluruh proses, agar dapat segera terwujud menjadi kawasan industri,” pungkas Sakina.(Ft)