Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto mengungkapkan, saat ini telah tersedia sekitar 1.510 unit kompos pit dengan kapasitas lebih dari 2.800 meter kubik.
Namun jumlah tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal untuk menangani sampah organik yang mencapai lebih dari 600 ton per hari. Untuk itu, Pemkot menargetkan pembangunan hingga 25.000 unit kompos pit yang akan ditempatkan di seluruh RW.
“Setiap RW minimal memiliki empat unit komposter agar sampah organik bisa dikelola di wilayah masing-masing selama kurang lebih tiga bulan sebelum dipanen,” jelas Darto.
Selain komposter, berbagai metode pengolahan lain juga terus dikembangkan, seperti budidaya maggot, loseda, hingga pemanfaatan sampah sebagai pakan ternak. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi beban sampah yang harus dibuang ke TPA secara signifikan.
Tak hanya mengandalkan pengelolaan berbasis masyarakat, Pemkot Bandung juga akan mengaktifkan kembali 18 unit alat pengolah sampah dengan kapasitas total sekitar 18 ton per hari. Bahkan, dua unit tambahan dengan teknologi air pollution control (APC) akan segera dioperasikan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan.
Sementara itu, rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengembangkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di kawasan Sarimukti turut menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Namun, seluruh proses harus tetap memperhatikan aspek hukum dan regulasi yang berlaku.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Bandung berharap mampu menjaga kondisi tetap terkendali di tengah keterbatasan kuota TPA, sekaligus mendorong perubahan pola pengelolaan sampah menuju sistem yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
“Kita harus bergerak bersama. Kalau tidak, kondisi ini bisa semakin berat,” pungkasnya.(Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan