Tema tahun ini dinilai mencerminkan kemandirian dan tanggung jawab daerah dalam mengelola potensi lokal, sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan visi pembangunan nasional.
Dalam sambutan tersebut juga disoroti sejumlah tantangan utama pelaksanaan otonomi daerah, seperti belum optimalnya integrasi perencanaan dan penganggaran, reformasi birokrasi yang masih berorientasi administratif, serta tingginya ketergantungan fiskal daerah terhadap pemerintah pusat.
Selain itu, kolaborasi antar daerah dinilai masih perlu diperkuat, terutama dalam menangani isu lintas wilayah seperti transportasi, pengelolaan lingkungan, banjir, hingga sampah.
Pemerintah daerah juga diminta untuk lebih fokus pada pemenuhan layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan perlindungan sosial, serta memperkuat stabilitas dan ketahanan daerah menghadapi berbagai krisis.
Lebih lanjut, disampaikan pula sejumlah langkah strategis yang perlu menjadi perhatian, di antaranya penguatan ketahanan pangan dan energi, pengelolaan sumber daya air, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta reformasi birokrasi berbasis digitalisasi.
Tak kalah penting, pemerintah daerah didorong untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan yang mampu membuka lapangan kerja, termasuk melalui dukungan terhadap UMKM dan sektor informal.
Seluruh pemerintah daerah diingatkan untuk tetap menerapkan prinsip efisiensi dan efektivitas anggaran dalam setiap kegiatan pemerintahan, termasuk dalam peringatan Hari Otonomi Daerah.
“Penyelenggaraan kegiatan harus sederhana, tidak berlebihan, serta memastikan setiap penggunaan anggaran memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ungkapnya.(Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan