“Senang kali kami, bisa menjabat tangan Bapak Presiden,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Nurita juga menyampaikan harapan yang mewakili banyak warga lain, khususnya mereka yang sebelumnya tidak memiliki rumah sendiri.
“Kalau bisa kami diberilah huntap (hunian tetap). Itu saja harapan kami. Walaupun gak besar, kecil. Kami hanya minta huntap dengan Bapak Presiden,” ujarnya.
Bagi Ibu Nurita, hunian tetap bukan sekadar tempat berteduh, tetapi simbol kepastian hidup setelah melewati masa-masa sulit akibat bencana. Ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang agar dirinya dan warga lain dapat kembali membangun kehidupan.
Di tengah keterbatasan, Ibu Nurita juga tak lupa menyampaikan rasa terima kasih dan doa bagi semua pihak yang telah membantu.
“Kepada Bapak Presiden, terima kasih banyak. Dan kepada donasi-donasi lain yang telah memberi dan membantu kami dalam keadaan musibah banjir kemarin itu terima kasih banyak. Semoga yang memberi bantuan kepada kami saya ucapkan semoga mereka semua sehat-sehat,” tuturnya.
Kisah Ibu Nurita menjadi potret nyata ketangguhan warga Aceh Tamiang dalam menghadapi bencana, sekaligus pengingat bahwa di balik setiap kebijakan dan bantuan, terdapat harapan-harapan sederhana yang ingin segera diwujudkan: hidup yang lebih layak, aman, dan pasti bagi masa depan keluarga. (BPMI/liv)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan