“Literasi menjadi sesuatu hal yang penting. Sebenarnya suara masyarakat harus kita ikuti. Agar kita bisa mendengar suara yang jernih, akademisi harus menyuarakan suara yang jernih,” ujar Farhan.
Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung Dewi Kania Sari dalam laporannya menyampaikan, Pameran Milestone merupakan agenda tahunan yang mulai diselenggarakan pada 2025.
Pada 2026, kegiatan tersebut dikembangkan menjadi dua kali dalam setahun sebagai respons terhadap tingginya antusiasme masyarakat terhadap edukasi sejarah Kota Bandung.
Pada penyelenggaraan ketiga ini, tema yang diangkat adalah “Semangat Bandung Kota Kembang yang Tidak Pernah Layu”.
Pameran menampilkan sejarah taman-taman di Kota Bandung, mulai dari masa kolonial hingga kondisi saat ini, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai toponimi berbagai taman di Kota Bandung.
Dewi menjelaskan, pameran awalnya direncanakan berlangsung selama dua minggu hingga 18 Oktober 2026.
Namun, apabila antusiasme masyarakat tinggi, waktu penyelenggaraan akan diperpanjang menjadi tiga minggu.
Pameran ini juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, komunitas, akademisi, hingga pelaku kreatif.
Kolaborasi tersebut menghadirkan penelitian dan karya mengenai taman, arsitektur, lingkungan, ruang publik, hingga teknologi pemindaian tiga dimensi taman-taman di Kota Bandung. (Fi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan