Ia menjelaskan bahwa proses kreatif dalam sastra berangkat dari perpaduan antara fenomena sosial dan realitas sastra, masing-masing sebesar 50 persen. Imajinasi, khayalan, dan pengalaman empirik kemudian diramu menjadi teks sastra yang utuh. “Dari satu gagasan, bisa lahir banyak karya, puisi, cerpen, naskah lakon, hingga novel,” tambahnya.

Kepada penulis pemula, ia menyarankan untuk membuat “jembatan keledai” berupa draf atau peta konsep sebelum menulis. Hal ini mencakup penentuan tema, topik, latar, peristiwa, tokoh, hingga karakter. Ia juga menegaskan bahwa ide yang baik adalah ide yang diolah dengan menarik. Kemampuan mengelola pikiran menjadi pilihan diksi yang tepat menjadi kunci utama dalam menulis.

Tak kalah penting, ia mengingatkan pentingnya membaca sebagai fondasi utama dalam menulis. “Iqra, iqra, baru nun,” katanya, menekankan bahwa membaca harus didahulukan sebelum menulis.

Sementara itu, Muhammad Subhan memperkuat pemaparan dengan menguraikan tiga sumber utama ide bagi penulis.

Pertama, apa yang dilihat. Ia menilai bahwa lingkungan sekitar, termasuk media sosial, merupakan ladang ide yang tak terbatas jika diamati dengan cermat. Kedua, apa yang dirasakan. Emosi seperti suka, duka, marah, kecewa, hingga pengalaman fisik dapat menjadi bahan mentah yang kuat untuk karya. Ketiga, apa yang dikerjakan. Aktivitas sehari-hari juga dapat menjadi sumber inspirasi jika dimaknai secara reflektif.

Diskusi ini berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi generasi muda, khususnya mahasiswa dan pegiat literasi, untuk lebih aktif menulis serta berani mengeksplorasi ide menjadi karya nyata.(Red)