Bandung,
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan juga turut hadir dalam kegiatan yang mengusung tema “Merawat Memori Konstitusi, Sejarah dan Risalah MPR dalam Meneguhkan Demokrasi Indonesia” tersebut.
Acara tersebut dihadiri Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Kehadiran para tokoh dan pejabat negara di tempat yang menjadi salah satu simbol sejarah perjuangan bangsa itu menjadi bagian dari upaya mengingat kembali perjalanan demokrasi dan ketatanegaraan Indonesia.
Dalam sambutannya, Ahmad Muzani mengatakan Gedung Merdeka memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perjalanan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Gedung tersebut menjadi saksi Konferensi Asia Afrika pada 1955, ketika 29 negara dari Asia dan Afrika berkumpul di tengah situasi dunia yang berada dalam ketegangan Perang Dingin.
Menurutnya, Konferensi Asia Afrika menjadi momentum penting karena negara-negara yang hadir berupaya menentukan sikap berdasarkan kepentingan nasional masing-masing tanpa terseret dalam arus politik Perang Dingin.
“Sekarang ini kita berada di gedung yang sangat bersejarah, yang sangat dikenang dalam sejarah perjalanan bangsa-bangsa, terutama bangsa-bangsa Asia dan Afrika,” ujarnya.
Ia menilai nilai sejarah Gedung Merdeka tidak hanya berkaitan dengan Konferensi Asia Afrika, tetapi juga dengan perjalanan pemikiran ketatanegaraan Indonesia.
Muzani menyebut gedung tersebut menjadi bagian dari sejarah ketika para anggota Konstituante membahas masa depan Indonesia dalam praktik ketatanegaraan.
Dalam konteks peluncuran buku, Muzani menegaskan bahwa kedua buku tersebut tidak sekadar menjadi catatan sejarah.
Menurutnya, buku tersebut lahir dari pergulatan pemikiran, perdebatan, pandangan, dan cita-cita dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia, termasuk proses perubahan Undang-Undang Dasar 1945 pada 1999, 2000, 2001, dan 2002.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan